Pada tahun 1922, Desa Tanjungkerta dibentuk melalui penyatuan dua desa, yaitu Desa Tjitjaloeng dan Desa Bojongsoban, dengan Kepala Desa yang pertama yaitu H. Hadori (alm). Pada tahun 1980, Desa Tanjungkerta dimekarkan kembali menjadi dua desa, yaitu Desa Tanjungkerta (Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya) dan Desa Tanjungsari (Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya). Saat ini, Desa Tanjungsari telah berbeda kecamatan menjadi Kecamatan Sukaresik setelah pemekaran kecamatan pada tahun 2010.
Berikut adalah perkembangan legenda dan sejarah kepemimpinan Desa Tanjungkerta:
| Periode | Kepala Pemerintahan | Keterangan Sejarah |
|---|---|---|
| 1922 s.d 1945 | Bpk. H. Hadori | Sekitar 23 tahun sebelum Indonesia merdeka, Desa Tanjungkerta sudah memiliki sistem pemerintahan tersendiri. Keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya yang berada di wilayah Desa Tanjungkerta sudah lama berdiri dan berkembang, mulai menata desa dengan membuat sarana sosial atau umum secara gotong royong. Buktinya adalah terbangunnya 3 saluran air besar untuk mengairi lahan pertanian. |
| 1945 s.d 1948 | Bpk. Doeleh | Pada masa kepemimpinan beliau, program pembangunan yang telah dirintis sebelumnya diteruskan dengan cara gotong-royong/kerja bakti. Beliau menjabat Kepala Desa Tanjungkerta hanya selama 3 tahun. |
| 1948 s.d 1950 | Bpk. H. Mahmoed | Beliau melanjutkan dan memperbaiki berbagai pekerjaan yang ditinggalkan oleh Kepala Desa sebelumnya. Namun, masa jabatan beliau lebih singkat dibanding Kepala Desa sebelumnya. |
| 1950 s.d 1979 | Rd. H. Hasanuddin | Pada masa kepemimpinannya, beliau disibukkan dengan penyelesaian gangguan keamanan dari pasukan DI/TII. Bersama masyarakat dan Abah Sepuh (Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya), beliau membantu ABRI dalam menumpas DI/TII di wilayah Tanjungkerta. Pembangunan tetap berjalan secara gotong-royong dan berhasil membangun beberapa saluran irigasi. |
| 1980 s.d 1987 | Bpk. Ading Yohana | Pada masa kepemimpinan inilah Desa Tanjungkerta melakukan pemekaran menjadi Desa Tanjungkerta dan Desa Tanjungsari. Sebagaimana para pendahulunya, beliau bersama masyarakat membangun dan menata desa secara gotong-royong. |
| 1988 s.d 1998 | Rd. H. Hasan Munadi | Pada masa ini, Desa Tanjungkerta mulai memasuki perkembangan yang pesat. Keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya menjadi perhatian pemerintah. Bantuan pemerintah menjadi modal pembangunan infrastruktur perdesaan; banyak sekolah dibangun hingga Perguruan Tinggi. Beliau menjabat selama 2 periode. |
| 1998 s.d 2006 | Bpk. Oding Usman K | Periode ini memberikan nilai baik bagi keberhasilan desa. Desa Tanjungkerta sering dikunjungi Pejabat Pemerintah Pusat karena kiprah Pesantren Suryalaya yang diakui dunia atas sumbangsih kemanusiaannya. Dengan pola pembangunan top down, banyak infrastruktur yang berhasil terbangun. |
| 2007 s.d 2019 | Bpk. Apar Suparman | Beliau menjabat selama dua periode dengan dua pola pembangunan berbeda: awalnya top down menjadi bottom up sejak lahirnya UU Desa No. 6 Tahun 2014. Desa mendapat banyak bantuan Pusat dan Daerah. Desa menjadi subjek pembangunan (pelaksana anggaran), dan kesejahteraan perangkat desa mulai meningkat (Siltap). |
| 2019 s.d Sekarang | Bpk. Aang Supriatna | Dokumen RPJMDes ini merupakan pedoman pembangunan periode Bapak Aang Supriatna selama 6 tahun ke depan. |